Bahtsul Masail

Dalil Shahih Tahlil

Dalil Keshahihan Tahlil 7 Hari, Hari ke-40, 100 dan1000

Admin | Rabu, 01 April 2015 - 09:59:24 WIB | dibaca: 235 pembaca

WAHABI: โ€œAnda harus meninggalkan Tahlilan 7 hari, hari ke 40, 100, dan ke 1000. Kalau tidak anda akan masuk neraka.โ€

SUNNI: โ€œApa alasan Anda mewajibkan kami meninggalkan Tahlilan tujuh hari, hari ke-40, 100 dan 1000?โ€

WAHABI: โ€œKarena itu tasyabbuh dengan orang-orang Hindu. Mereka orang kafir. Tasyabbuh dengan kafir berarti kafir pula.โ€

SUNNI: โ€œOwh, itu karena Anda baru belajar ilmu agama. Coba Anda belajar di pesantren Ahlussunnah Wal-Jamaโ€™ah, Anda tidak akan bertindak sekasar ini. Anda pasti malu dengan tindakan Anda yang kasar, dan sangat tidak Islami. Ingat, Islam itu mengedepankan akhlaqul karimah, budi pekerti yang mulia. Bukan sikap kasar seperti Anda.โ€

WAHABI: โ€œKalau begitu, menurut Anda acara Tahlilan dalam hari-hari tersebut bagaimana?โ€

SUNNI: โ€œJustru acara dzikir Tahlilan pada hari-hari tersebut hukumnya sunnah, agar kita berbeda dengan Hindu.โ€

WAHABI: โ€œMana dalilnya? Bukankah pada hari-hari tersebut, orang-orang Hindu melakukan kesyirikan.โ€

SUNNI: โ€œJustru karena pada hari-hari tersebut, orang Hindu melakukan kesyirikan dan kemaksiatan, kita lawan mereka dengan melakukan kebajikan, dzikir bersama kepada Allah subhanahu wa taโ€™ala, dengan Tahlilan. Dalam kitab-kitab hadits diterangkan:

ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ุนููˆู’ุฏู ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…:ุฐูŽุงูƒูุฑู ุงู„ู„ู‡ู ูููŠ ุงู„ู’ุบูŽุงููู„ููŠู’ู†ูŽ ุจูู…ูŽู†ู’ุฒูู„ูŽุฉู ุงู„ุตู‘ูŽุงุจูุฑู ูููŠ ุงู„ู’ููŽุงุฑูู‘ูŠู’ู†ูŽ. (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุทุจุฑุงู†ูŠ ููŠ ุงู„ูƒุจูŠุฑ ูˆุงู„ุฃูˆุณุทุŒ ูˆุตุญุญู‡ ุงู„ุญุงูุธ ุงู„ุณูŠูˆุทูŠ ููŠ ุงู„ุฌุงู…ุน ุงู„ุตุบูŠุฑ).
โ€œDari Ibnu Masโ€™ud radhiyallahu โ€˜anhu, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: โ€œOrang yang berdzikir kepada Allah di antara kaum yang lalai kepada Allah, sederajat dengan orang yang sabar di antara kaum yang melarikan diri dari medan peperangan.โ€ (HR. al-Thabarani dalam al-Muโ€™jam al-Kabir [9797] dan al-Muโ€™jam al-Ausath [271]. Al-Hafizh al-Suyuthi menilai hadits tersebut shahih dalam al-Jamiโ€™ al-Shaghir [4310]).

Dalam acara tahlilan selama tujuh hari kematian, kaum Muslimin berdzikir kepada Allah, ketika pada hari-hari tersebut orang Hindu melakukan sekian banyak kemungkaran. Betapa indah dan mulianya tradisi tahlilan itu.

WAHABI: โ€œSaya tidak menerima alasan dan dalil Anda. Bagaimanapun dengan Tahlilan pada 7 hari kematian, hari ke-40, 100 dan 1000, kalian berarti menyerupai atau tasyabbuh dengan Hindu, dan itu tidak boleh.โ€

SUNNI: โ€œItu karena Anda tidak mengerti maksud tasyabbuh. Tasyabbuh itu bisa terjadi, apabila perbuatan yang dilakukan oleh kaum Muslimin pada hari-hari tersebut persis dengan apa yang dilakukan oleh orang Hindu. Kaum Muslimin Tahlilan. Orang Hindu jelas tidak Tahlilan. Ini kan beda.โ€

WAHABI: โ€œTapi penentuan waktunya kan sama?โ€

SUNNI: โ€œYa ini, karena Anda baru belajar ilmu agama. Kesimpulan hukum seperti Anda, yang mudah mengkafirkan orang karena kesamaan soal waktu, bisa berakibat mengkafirkan Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam.โ€

WAHABI: โ€œKok bisa berakibat mengkafirkan Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam?โ€

SUNNI: โ€œAnda harus tahu, bahwa kesamaan waktu itu tidak menjadi masalah, selama perbuatannya beda. Coba Anda perhatikan hadits ini:

ุนูŽู†ู’ ุฃูู…ู‘ู ุณูŽู„ูŽู…ูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุตููˆู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุชู ูˆูŽูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู’ู„ุฃูŽุญูŽุฏู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ู…ูู…ู‘ูŽุง ูŠูŽุตููˆู…ู ู…ูู†ู’ ุงู’ู„ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ู ุฅูู†ู‘ูŽู‡ูู…ูŽุง ุนููŠุฏูŽุง ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ ููŽุฃูŽู†ูŽุง ุฃูุญูุจู‘ู ุฃูŽู†ู’ ุฃูุฎูŽุงู„ูููŽู‡ูู…ู’. (ุฑูˆุงู‡ ุฃุญู…ุฏ ูˆุงู„ู†ุณุงุฆูŠ ูˆุตุญุญู‡ ุงุจู† ุฎุฒูŠู…ุฉ ูˆุงุจู† ุญุจุงู†).
Ummu Salamah radhiyallahu โ€˜anha berkata: โ€œRasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam selalu berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad, melebihi puasa pada hari-hari yang lain. Beliau bersabda: โ€œDua hari itu adalah hari raya orang-orang Musyrik, aku senang menyelisihi mereka.โ€ (HR. Ahmad [26750], al-Nasaโ€™i juz 2 hlm 146, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Dalam hadits di atas jelas sekali, karena pada hari Sabtu dan Ahad, kaum Musyrik menjadikannya hari raya, maka Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam, menyelisihi mereka dengan berpuasa. Sama dengan kaum Muslimin Indonesia. Karena orang Hindu mengisi hari-hari yang Anda sebutkan dengan kesyirikan dan kemaksiatan, yang merupakan penghinaan kepada si mati, maka kaum Muslimin mengisinya dengan dzikir Tahlilan, sebagai penghormatan kepada si mati.

WAHABI: โ€œOwh, iya ya.โ€

SUNNI: โ€œSaya ingin tanya, Anda tahu dari mana bahwa hari-hari tersebut, asalnya dari Hindu?โ€

WAHABI: โ€œYa, baca Kitab Weda, kitab sucinya Hindu.โ€

SUNNI: โ€œAlhamdulillah, kami kaum Sunni tidak pernah baca kitab Weda.โ€

WAHABI: โ€œAwal mulanya sih, ada muallaf asal Hindu, yang menjelaskan masalah di atas, sering kami undang ceramah pengajian kami. Akhirnya kami lihat Weda.โ€

SUNNI: โ€œItu kesalahan Anda, orang Wahabi, yang lebih senang belajar agama kepada muallaf, dan gengsi belajar agama kepada para Kiai Pesantren yang berilmu. Jelas, ini termasuk bidโ€™ah tercela.โ€

WAHABI: โ€œTerima kasih ilmunya.โ€

SUNNI: โ€œAnda dan golongan Anda tidak melakukan Tahlilan, silahkan. Bagi kami tidak ada persoalan. Tapi jangan coba-coba menyalahkan kami yang mengadakan dzikir Tahlilan.โ€









0